AJAIB TUHAN, AJAIB TUHAN | St. Clara

BAGI TUHAN

TIADA YANG MUSTAHIL

 

Aku dilahirkan di Bengkulu, 1 Mei 1992, dari pasangan Heribertus Suharjono dan Supatmi. Beberapa tahun kemudian kami pindah ke Kota Bumi,  Lampung  Utara. Masa kecil aku lewati di sana. Petani dan buruh menjadi mata pencaharian kebanyakan orang di daerah itu sebagaimana orang tuaku. Pendapatan hari ini habis buat makan hari ini. Untuk kebutuhan yang lain tentunya dikesampingkan. Demikian juga untuk kebutuhan pendidikanku. Bukan berarti orang tuaku tidak memikirkan masa depanku, tetapi lebih karena keadaan dan keterbatasan yang kami hadapi. Masih ingat kala itu, orang tuaku tidak punya biaya untuk menyekolahkan aku di Taman Kanak-Kanak. Saat itu aku tinggal bersama kakek dan nenek yang rumahnya tidak jauh dari rumahku. Beruntung kakek mempunyai kebun kacang panjang dan aku diperbolehkan menjual hasil kebun mereka untuk membayar uang sekolah.

Setelah duduk di bangku Sekolah Dasar, aku tinggal bersama orang tua. Kami tinggal di gedung pertemuan gereja. Kebetulan bapak bekerja sebagai koster dan kami memang tidak mempunyai rumah. Sebagai anak pertama laki-laki dari dua bersaudara, aku harus membantu bapak. Untuk memenuhi kebutuhanku, aku harus mencari uang sendiri. Pagi hari sekolah, di siang hari aku bisa ikut bekerja sebagai buruh di ladang tetangga. Puji Tuhan dengan ketekunanku, aku sanggup membayar SPP bahkan bisa membeli seekor kambing.

Demikian juga setelah duduk di bangku SMP dan SMA, pekerjaan serabutan seperti buruh, atau ikut seorang pemborong buah, atau ikut koret di ladang tetangga, bahkan bekerja di tempat pembibitan karet, atau menjadi kuli panggul di pasar pun aku jalani. Semua itu aku lakukan dengan penuh suka cita. Dari jerih payah itu aku bisa menyelesaikan SMA. Untuk memenuhi tuntutan hidup, kami semua harus bekerja keras. Setiap perjuangan pasti akan menghasilkan buah. Kemudian kami berhasil memiliki sapi dan kambing, bahkan dari hasil ternak hewan tersebut kami bisa membeli lading untuk ditanami karet.

            Di kampungku lulusan SMTA sudah sangat dihargai. Itu sebabnya aku tidak pernah berpikir untuk meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Andaikan aku berkeinginan, pun hal itu sangatlah mustahil. Biayanya dari mana? Di kampung ternyata cukup sulit mencari lapangan pekerjaan maka setahun yang lalu aku memutuskan untuk meninggalkan kampung halaman. Aku ingin mengadu nasib dan mengubah hidupku menjadi lebih baik. Itu harapanku. Kebetulan orang tuaku juga sangat mendukung. Maka merantaulah aku ke Bekasi, ke tempat pakde dan budeku.

Waktu berjalan begitu singkat, tak terasa sudah setahun aku tinggal bersama pakde dan bude. Tidak berbeda dengan sifat orang tuaku, mereka pun pekerja keras. Mereka adalah penadah barang rongsokan bahkan sering juga “turun lapangan” berkeliling mencari barang rongsokan. Sementara aku belum mendapatkan pekerjaan, aku membantu mereka. Pekerjaanku adalah memilah barang rongsokan, menimbang besi, koran, kardus, membersihkan gelas bekas air minum kemasan. Ternyata mencari pekerjaan di perantauan pun tidak semudah yang aku  bayangkan, apalagi hanya berbekal ijazah SLTA. Bagaimana dengan masa depanku? Bukan berarti aku takut akan hari esok, aku hanya ingin nasibku  menjadi lebih baik.                                                                                                                     

Dalam kegalauanku, tiba-tiba ada kabar bahwa di Gereja Santa Clara ada program Ayo Kuliah. Tanpa berpikir panjang aku ikuti prosedurnya. Mulai dari mengisi formulir, melengkapi data, dan siap disurvei oleh tim pengurus program Ayo Sekolah Ayo Kuliah (ASAK). Pakde dan budeku sangat mendukung, mereka membantu aku mengurus persyaratan yang aku perlukan. Tidak sia-sia usaha kami, aku diterima di Kalbis Institute dan terhitung mulai 2 September 2013 aku sudah kuliah. Perjuangan tidak hanya sampai disitu, aku merasa justru ini adalah awal dari perjuanganku. Setelah dinyatakan diterima, aku harus membayar beberapa juta. Bahagia, karena aku diterima tetapi juga sedih, karena belum memiliki dana yang harus dibayarkan. Disini aku belajar dari masa lalu. Walau dengan susah payah, buktinya aku bisa menyelesaikan sekolah menengahku. Aku tidak akan menyerah, aku harus tetap berusaha dan pasti bisa.

Akhirnya, untuk membayar uang masuk ke Kalbis, aku terpaksa pulang kampung. Aku ikut borongan tebang pohon dan cabut singkong. Bahkan waktu daftar ulang ke Kalbispun aku tidak bisa pergi karena tidak punya ongkos. Beruntung tim ASAK membantuku untuk daftar ulang. Sepertinya semua jalanku dipermudah. Banyak tangan yang merengkuh dan menopangku.

Terima kasih program ASAK Santa Clara! Sungguh program ASAK ini sangat membantu, khususnya bagi orang kurang mampu. Semoga kuliahku lancar, cepat selesai dan mendapat pekerjaan. Berkat itu tidak akan aku miliki sendiri, setelah berhasil kelak pasti aku akan mengembalikan melalui teman-teman yang senasib  seperti aku.

Sesuatu yang tidak pernah ada dalam angan, malah terjadi dalam kenyataan. Yah, itulah kehidupanku. Tuhan tidak memberikan yang aku minta tetapi memberikan yang aku butuhkan. Bagi Tuhan, tiada yang mustahil. Terima kasih Tuhan Yesus, terima kasih program ASAK, bersamamu akan kugapai cita-citaku.

 

Antonius Haryanto